Cerpen: Dari Kebersihan Pantai Sampai Pernyataan Cinta

Dari Kebersihan Pantai Sampai Pernyataan Cinta

Aku berjalan menuju pantai yang luas. Dulu pantai ini begitu bersih, kini berubah menjadi tumpukan sampah. Dulu pantai ini begitu indah dengan airnya yang biru, kini berubah menjadi biru kehitaman akibat sampah. Dulu hanya segelintir orang yang tahu pantai ini, sekarang banyak yang sudah tahu.

Aku ingat, dulu aku sering sekali ke pantai ini menikmati keindahan alam laut. Begitu tenang, tidak ada orang, dan angin yang begitu sepoi-sepoi. Tapi itu dulu, sekarang aku tidak suka lagi ke pantai ini.

Tapi … satu tahun kemudian, pantai ini berubah sedikit. Air pantai ini tetap biru kehitaman, sampah masih saja berserakan, namun tidak ada lagi orang yang datang. Mungkin karena pantai ini sudah tidak enak dipandang. Begitu juga dengan para pedagang, mereka meninggalkan lapak dagangannya begitu saja.

Ketika aku melihatnya, seakan-akan aku melihat pantai ini sedang menangis. Maka dari itu, aku putuskan untuk membersihkan pantai ini.

Sebulan aku membersihkan pantai ini, tidak menunjukkan perubahan berarti. Banyak warga yang mengolok-ngolokku. Mengatakan pekerjaanku tidak bergunalah, aku gilalah, dan lain-lain. Aku tidak menggubris perkataan warga.

“Sudah, tidak ada gunanya membersihkan pantai, itu pantai sudah sekarat.”

“Pantai itu memang dari dulu kotor. Ngapain kau bersihkan? Nggak guna.”

“Percuma semua gajimu hanya untuk pantai. Mendingan gajimu untuk bersenang-senang.”

Dan masih banyak lagi nasihat dari warga yang aku terima. Tapi aku tetap membulatkan tekad. Aku akan membersihkan pantai ini.

***

Aku adalah pegawai pemerintah di kota. Aku tinggal di desa ini, karena aku sangat suka suasana desa daripada kota. Walaupun perjalanan ke tempat kerjaku membutuhkan satu jam, tapi aku tidak peduli. Satu jam perjalanan itu tidak seberapa dibandingkan dengan ketenangan suasana desa.

Gajiku memang lumayan, seharusnya aku sudah menikah. Umurku sudah cukup untuk menikah, begitu juga dengan tabunganku. Tapi … aku membuang impian itu demi pantai ini.

Dari pagi hari sampai siang hari, aku berangkat kerja. Dari sore hari sampai malam, aku membersihkan pantai ini. Terkadang aku menyewa beberapa orang membersihkan pantai ini.

Enam bulan aku membersihkannya, pantai ini mulai terlihat bersih. Aku sangat puas dengan pencapaianku, tapi tidak berhenti. Para warga sedikit terkejut dengan perubahan yang terjadi.

Tapi….

Ketika pantai ini sedikit lebih indah, maka mulai banyak orang yang mengunjungi pantai ini. Banyak pedagang yang membuka lapaknya. Dan tentu saja, banyak orang membuang sampah sembarangan. Aku tidak bisa turun tangan mengatasi situasinya. Karena aku tidak punya kekuasaan.

Para warga yang awalnya mengolokku, kini berubah menjadi penguasa pantai ini. Aku malah tidak diperbolehkan membersihkan pantai ini.

Dalam hati aku berkata, “Apakah kalian tidak memikirkan pantai yang indah? Apakah kalian hanya memikirkan keegoisan kalian?” tapi itu hanya sebatas hati saja, aku tidak bisa mengatakannya.

Tiga bulan kemudian, pantai ini menjadi kotor kembali. Tidak ada orang yang mengunjungi pantai ini. Para pedagang meninggalkan lapak jualan mereka dan para warga kembali tidak mempedulikan pantai ini.

“Kalau seperti ini, setiap aku membersihkan pantai ini, ujung-ujungnya bakal kotor lagi.”

Aku berpikir keras bagaimana caranya aku dapat membersihkan pantai ini, tanpa membuat orang-orang mengotorinya lagi. hingga akhirnya seorang wanita memberikanku saran.

Kenapa tidak aku bangun saja hotel di sana? Membuat hotel dengan pemandangan yang sangat indah. Aku akan memperkerjakan beberapa petugas untuk mengawasi dan membersihkan hotel ini. Tapi … dana yang aku punya tidak mencukupi. Namun wanita itu menemaniku mengambil pinjaman dengan harta dia sebagai jaminannya.

Aku langsung membangun hotel dan memperkerjakan pegawai. Aku tidak memperbolehkan warga melihat pantai ini. Jika ingin melihat, mereka harus mematuhi peraturan ketat, begitu juga dengan orang yang ingin berlibur ke pantai ini.

Hingga akhirnya, pantai ini begitu bersih dan indah. Keindahan pantai ini terdengar di seluruh tempat. Banyak yang ingin menikmati pantai ini, tapi aku membatasinya. Karena aku tidak ingin pantai ini kotor karena orang-orang. Bagi pengunjung juga aku berikan aturan yang sangat ketat. Biarlah para warga menuduhku menguasai pantai ini, asalkan aku mampu menjaga kebersihan pantai.

***

Akhirnya aku memberanikan bertanya kepada wanita itu. Kenapa dia rela berkorban. Namun jawaban yang dia berikan membuat mukaku memerah.

“Kenapa kamu mau membantuku?”

“Kenapa? Bukankah sudah jelas, orang yang jatuh cinta akan melakukan sesuatu demi orang yang dia cintai?”

“Maksudnya?”

“Aku jatuh cinta kepadamu. Aku jatuh cinta melihat kegigihanmu membersihkan pantai ini. Jujur, pantai ini begitu berharga bagiku. Karena keindahannya mampu menyejukkan hatiku.”

Mukaku langsung memerah. Aku tidak bisa berkata apa-apa dan aku tidak bisa menyembunyikan senyumanku.

“Jadi, kamu sudah tahu perasaanku. Kamu mau melamarku atau tidak?”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here