Cerpen: Aku Sangat Membecimu Andri

Aku begitu membencimu. Sejak dulu aku tidak pernah suka dengamu. Kehidupanmu yang terlalu menyakitkan begitu menyesakkan dadaku.

Kau muncul dengan sejumlah sampah plastik untuk kau jual. Kau bekerja keras sehingga menghasilkan keringat yang begitu banyak. Tapi kau tidak pernah mengeluh sedikitpun.

Ya, aku tahu. Aku membencimu karena aku tidak bisa sepertimu. Kau selalu tersenyum dan tidak pernah mengeluh. Sedangkan aku, sedikit saja masalah yang menimpaku, aku akan mengeluh habis-habisan.

Aku memang berasal dari orang kaya, orang tua yang cukup berpendidikan. Segala harta sudah kupunya. Orang tuaku begitu memanjakanku, tapi mereka tidak pernah berada di sampingku. Sedangkan kau, kau memang pas-pasan, tapi orang tuamu selalu berada di sampingku. Itu juga yang selalu membuatku membencimu.

Aku ingat, namamu adalah Andri. Kau adalah orang miskin yang beruntung melanjutkan sekolah ke Universitas terkenal. Kau tidak pernah belajar karena harus bekerja sehari-hari. Makanya wajar nilaimu pas-pasan. Tapi … aku akui kalau otakmu begitu cemerlang.

***

“Huh … entah kenapa hari ini begitu sepi. Biasanya hari Senin itu begitu ramai dengan mahasiswa. Kok hari ini sepi ya?” kataku dalam hati. Aku bosan di rumah yang tidak ada kehidupan.

“Oh, itu si Andri. Seperti biasa dia selalu mencari sampah di kampus ini. Oh ya, kenapa aku tidak mendekati dia saja,” aku memang tidak dekat dengannya walaupun kami sekelas. Sejujurnya, tidak ada yang mau mendekati Andri karena kehidupannya. Karena aku tidak mempunyai kegiatan, makanya aku mendekatinya.

“Hai,” sapaku ramah.

Andri langsung menghentikan aktivitasnya. Lalu dia memalingkan wajahnya ke hadapanku. Apa dia terkejut ya?

“Hai juga,” katanya ramah. Setelah itu, dia kembali ke aktivitas semula.

“Apa yang kau lakukan terhadap sampah-sampah itu?” tanyaku kepadanya. Walaupun aku sudah tahu jawabannya.

“Ya … untuk menyambung aku hidup. Kalau tidak begini, aku tidak bisa hidup,” katanya sambil mengelap keringatnya.

“Boleh aku menemanimu?” tanyaku ramah. Aku melakukannya karena aku tidak tahu lagi menghabiskan waktuku.

“Boleh, asal kau tidak jijik dengan sampah,” katanya ramah. Akhirnya aku mengikuti dia kemanapun tempat sampah berada.

***

Akhirnya, setelah berjam-jam mencari tempat sampah, akhirnya dia pergi ke grosir sampah, dalam versiku. Dia menjualnya dan mendapat beberapa uang lembar berwarna biru. Dia kelihatan senang sekaligus lelah. Aku tidak tega melihat dia lelah, aku pun membelikannya minuman.

“Tidak usah, tidak usah repot-repot.”

“Tidak apa-apa. Lagian, dirimu ini kuat sekali ya. Aku saja mungkin tidak sanggup menjalani kehidupan sepertimu.”

“Ya iyalah. Aku laki-laki, kau perempuan. Ya aku lebih kuat dari padamu,” katanya setengah mengejek.

“Bukan itu maksudku, Andri bodoh,” kataku sambil mengembungkan pipiku. Aku tidak menyangka ternyata Andri sangat senang bercanda. Selama di kelas dia lebih memilih diam. Ternyata aslinya seperti ini.

“Bukankah kau membenciku?”

Eh, kenapa dia tahu kalau aku membencinya?

“Dari mana kau tahu aku membecimu?” tanyaku terkejut.

“Terlihat dari matamu. Aku mengamati setiap mata yang memandangku. Tidak ada mata persahabatan di antara mereka. Bahkan, kau lebih membenciku daripada yang lain,” katanya sambil menegak minuman yang kuberikan. Dia juga tidak lupa mengelap keringatnya dengan baju yang dipakainya.

“Memang benar aku membencimu. Tapi, itu karena…,”

“Bukankah kehidupanmu lebih berat daripada kehidupanku? Aku memang tidak memiliki harta, tapi aku memiliki kasih sayang orang tua. Sedangkan kau, memiliki banyak harta tapi tidak memiliki kasih sayang orang tua. Seandainya kasih sayang bisa dibeli, mungkin kau akan mengeluarkan banyak harta untuk membeli kasih sayang,” katanya sambil memotong pembicaraanku. Satu fakta lagi aku tahu tentang Andri, dia ternyata lebih peka daripada orang lain.

Aku tersenyum. Aku memainkan rambutku dengan muka memerah.

“Kau mungkin benar. Ternyata, kehidupan kita berdua sama-sama berat ya?”

“Maaf, kehidupanmu saja yang berat, aku tidak,” katanya memotong pembicaraanku sambil memasang muka bego.

Dasar Andri, ternyata dia lebih menyebalkan. AKU SANGAT MEMBECIMU ANDRI.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here