3 Cerita Antara Aku dan Guruku di Sekolah

Siapakah Yang Menginspirasi Saya Menulis

Ini adalah sebuah cerita pendek mengenai aku dan guru. Cerita yang menggambarkan mengenai keseharianku di sekolah. Bahwa masa sekolahku tidak sesuai dengan apa yang kulihat di televisi. Hari sekolahku, bisa dikatakan tidak buruk, tapi tidak baik juga.

Inilah ceritaku mengenai guruku.

Aku Dikeluarkan dari Dalam Kelas

Seketika itu aku hanya terdiam saja. Apa yang salah dengan diriku? Aku hanya menyampaikan pendapatku tapi guruku begitu marah. Apa salahnya untuk menyampaikan pendapat?

Pada waktu itu, hari selasa, tanggal sekian, aku lupa tanggalnya. Aku berangkat ke sekolah dengan begitu semangat. Aku masihlah polos, masih belum mengerti.

Dengan seragam putih merah yang sangat aku cintai ini. Aku sudah lama menantikan untuk bersekolah. Aku bermimpi aku akan menemukan ilmu pengetahuan baru di sana. Aku bermimpi, aku akan belajar dengan semestinya. Karena selama ini aku belajar di Perpustakaan rumah.

Hari itu, aku datang terlambat. Walaupun terlambat, aku tidak seperti teman-temanku yang lain. Mereka tampak ketakutan, kalau aku biasa saja. Karena aku sudah terbiasa terlambat, hehe.

Setelah menerima hukuman akibat keterlambatanku, aku masuk ke dalam kelas. Kebetulan waktu itu adalah guru IPA, membahas mata pelajaran IPA. Namun, satu hal yang menjadi kekecewaanku. Selama ini aku memikirkan aku akan mendapatkan ilmu baru ketika sekolah, ternyata tidak. Sekarang aku mengerti, jika ingin mendapatkan ilmu baru, perbanyaklah membaca.

Ibu guru silap memberikan informasi pembelajaran. Maka dengan gagah berani aku mengangkat tanganku. Ibu guru mempersilahkan aku bicara. Aku mengatakan bahwa ibu sedikit salah dalam memberikan informasi. Aku menerangkan dengan terang. Tidak ada satu pun informasi yang kulewatkan.

Namun, ibu guru begitu marah. Dia menyuruhku untuk keluar sambil membentakku. Aku waktu itu cukup terkejut, aku hanya bisa mentaati perkataan guruku.

Pipiku Disakiti Oleh Guruku

Aku akui, aku memang anak yang nakal. Aku tidak suka menuruti perintah guruku. Dan suatu hari aku berkelahi dengan temanku. Karena dia mengatakan aku anak aneh. Aku begitu marah, aku langsung memukul dia. Kami berkelahi hebat, namun, akulah memenangkan perkelahian itu. Beruntung aku berhasil menahan emosiku. Kalau aku tidak menahan emosiku, aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.

Ibu guru datang melerai, padahal perkelahian telah usai. Ibu guru mencoba untuk memahamiku, namun, semua orang tahu kalau orang tua temanku itu begitu terkenal. Sehingga guruku terkesan membelanya daripadaku.

Aku tentu saja marah karena demikian. Aku seperti bersaksi secara sepihak. Semua suaraku tidak didengar. Padahal, kalau dipikir-pikir dia yang selama ini menjahili aku. Bukan hanya dia mengatakan aku anak aneh, namun dia pernah menjahili aku. Aku berusaha menahan diri.

Namun, ketika aku tidak bisa menahan diri, bu guru membelanya. Aku marah sekali. Aku membentak guruku, dan guruku dengan keras menamparku. Aku tidak terima diperlakukan demikian. Aku kembali membalas guruku, dan perkelahian terjadi. Aku tidak peduli apakah aku akan mendapat nilai jelek atau tidak, yang ada dipikiranku untuk melepaskan semua kemarahan kepada guruku. Beruntung orang tuaku dan orang tua temanku muncul.

Namun, orang tua temanku memihak kepada anaknya. Aku pun melampiaskan kemarahanku kepada orang tuanya. Beruntung, orang tuaku tidak memarahiku setelah itu. Orang tuaku hanya tersenyum sambil berkata, “Ingat nak, dunia ini nggak adil.”

Guruku Berpihak Kepada Temanku

Bukan hanya aku saja yang merasakannya, namun temanku yang lain juga merasakannya. Aku sebut saja dia Z. Karena si Z itu anak pejabat, dan si Z itu memiliki kekerabatan yang dekat dengan kepala sekolah, guruku seakan berpihak kepada si Z. Padahal, si Z itu bukan apa-apa. Masalah kognitif, dia tidak bagus, namun masalah nilai, dia terbaik.

Bukan hanya di saat satu sekolah saja aku merasakan demikian. Saat SD, SMP, dan SMA, aku menjumpai demikian. Padahal, guruku selalu berucap, “Aku tidak pilih-pilih, siapapun orang tua kalian, aku tidak takut,” namun itu hanya di mulut saja. Ketika si Z muncul, guruku seakan tidak dapat berbuat apa-apa.

Orang tuaku pernah mengatakan kepadaku, “Dunia ini tidak adil,” maka itulah hal yang pertama kali kurasakan mengenai ketidakadilan dunia ini. Jika masalah jabatan orang tua, sebenarnya orang tuaku lebih tinggi jabatannya daripada orang tua Z. Aku malah bersaudara langsung dengan kepala sekolah. Namun, orang tuaku memilih diam saja, orang tuaku tidak ingin aku dianggap spesial, sehingga aku memang tidak dianggap demikian. Dan orang tua si Z tidak demikian, sehingga si Z merasa spesial.

Tulisan ini dibuat untuk menyelesaikan tantangan #BloggersChallenges ke-47.

1 COMMENT

  1. Sekarang aku mengerti, jika ingin mendapatkan ilmu baru, perbanyaklah membaca.

    Setuju sama kalimat ini.. Tp banyak pelajar yang justru malas membaca.. Dan mengandalkan apa yg guru ajarkan aja..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here