Awalnya Bully Lama-Lama Cinta

6 Tanda Ini Menunjukkan Cowokmu Pelit atau Irit, Lihat Yuk Biar….

Ada satu cowok di kelasku yang amit-amit banget. Dia jelek, agak gendutan, rambut kering, lengkaplah. Aku suka kali mem-bully dia. Dia tidak pernah marah, dia merasa telah menerima setiap bully-an aku.

Agak aneh juga sih. Kenapa dia hanya menerima apa yang aku lakukan. Padahal yang telah aku lakukan itu kejam banget dan tidak bisa diampuni. Secara tidak langsung aku melakukan tindak kekerasan kepada dia. Tapi kenapa dia hanya tersenyum dan mengatakan “terserah kamu, aku tidak peduli”.

Eh … tunggu dulu! Sejak kapan mukaku memerah? Sejak kapan jantungku berdetak kencang? Dan sejak kapan aku memikirkan kesalahanku ke dia? Tidak! Ini tidak benar! Ini tidak benar kan?

***

Cowok itu adalah murid pindahan. Dia berasal dari desa yang kampungan banget. Para guru sering meledek desa tersebut. Dia datang dengan pakaian ala kadarnya, pakaian wong deso. Dia berdiri memperkenalkan diri sambil gemetar. Haha, itu sangat lucu.

Setelah memperkenalkan diri, dia duduk di sampingku. Kebetulan di sampingku kosong. Dan aku melihat keanehan dalam diri dia. Dia jelek, agak gendutan, rambut keriting dan lain sebagainya. Hingga akhirnya aku mem-bully dia. Jutaan kata bully aku keluarkan dan itu membuat satu kelas tertawa terbahak-bahak. Tapi dia hanya tersenyum saja seolah menerima kenyataan.

Aku adalah cewek yang cantik banget, aku idola sekolah. Banyak cowok yang mati-matian mengejarku. Tapi aku menganggap itu adalah mainan. Bagiku, belum ada cowok yang pantas untukku.

Tapi….

Kenapa akhir-akhir ini, cowok jelek, agak gendutan, rambut keriting, dll mampu membuat wajahku memerah dan jantungku berdebar kencang? Aku harus melakukan penyelidikan lebih lanjut. Maka dari itu, aku mulai stalking dia.

Hari pertama stalking, hmm … dia pergi ke rumahnya, berbicara dengan keluarganya panjang lebar. Setelah itu dia tidak keluar sampai malam.

Hari kedua stalking, sama seperti semalam. Dia pergi ke rumahnya, berbicara dengan keluarganya panjang lebar, setelah itu dia tidak keluar sampai malam.

Hari ketiga stalking, sama seperti semalam juga. Dia pergi ke rumahnya, berbicara dengan keluarganya panjang lebar, setelah itu dia tidak keluar sampai malam.

Aku jadinya penasaran. Kenapa dia tidak pernah keluar. Apakah di dalam rumah itu begitu nyaman? Padahal aku merasa di rumah itu bagaikan neraka. Akhirnya, pada hari keempat stalking, aku memberanikan diri ke rumahnya.

Aku mengetuk pintunya pelan sekali, ibunya membuka pintu. Ibunya awalnya terkejut dengan kedatanganku. Dia bahkan mengusap matanya berkali-kali. Sedetik kemudian, dia mengeluarkan air mata dan memelukku. “Huhu, akhirnya anakku punya teman juga, cewek lagi,” aku hanya melongo saja.

Setelah itu, ibunya mempersilahkan aku duduk. Cowok itu keluar dan ketika dia melihat aku, dia terkejut luar biasa. “Ke-ke-ke-kenapa kamu di sini? Da-da-dari mana kamu tahu rumahku?” katanya terbata-bata. Aku baru melihat dia seperti itu, dan itu membuat aku tertarik dengannya. Eh, sadar woi.

Ibunya berbicara kepadaku panjang lebar, begitu juga dnegan ayahnya. Cowok itu hanya diam saja. Dia tampak gugup melihatku. Kenapa? Padahal di sekolah dia biasa saja. Tapi, manis juga dia seperti itu? Aku langsung menampar pipiku untuk menyadarkanku.

***

Keesokan harinya, saat di sekolah, cowok itu biasa saja. Aku beberapa kali meledeknya dan dia hanya tersenyum. Siang harinya, aku kerumahnya, dan dia begitu gugup. Dan begitulah seterusnya hingga aku dan dia akrab.

Aku merasa betah di rumahnya karena rumahnya memberikan kehangatan kepadaku. Kehangatan yang tidak akan pernah aku dapatkan, meskipun aku mengeluarkan uang miliaran.

Namun, karena aku selalu ke rumahnya dari SMA hingga kerja, dan aku semakin dekat dengan cowok itu, akhirnya aku menyerah dengan perasaanku. Aku menerima lamarannya.

2 COMMENTS

  1. Hera Fitra Lubis

    Ada cinta dibalik bully

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here