Apakah Menulis itu Mudah dan Menyenangkan?

Bersabar memperbaiki artikel

Ini juga pertanyaan saya sebelum terjun ke dunia menulis. Apakah menulis itu mudah dan menyenangkan? Sepertinya asyik begitu, misalkan menulis novel. Hanya dengan menatap layar komputer sambil jari menari bersama keyboard. Namun mampu menghasilkan penghasilan yang lumayan.

Terlihat tidak membutuhkan kerja keras. Yang dibutuhkan hanyalah inspirasi tanpa batas. Namun, apakah benar demikian. Terkadang ada juga pertanyaan ini, “Jika memang menulis itu mudah dan menyenangkan, kenapa semua orang tidak menulis? Justru ada yang tidak suka menulis?”

Ada orang yang suka menulis namun ada juga yang tidak suka menulis. Padahal menulis itu hanyalah mengekspresikan setiap imajinasi kita. Mengekspresikan curahan hati kita. Tapi kenapa banyak yang tidak suka menulis.

Namun, setelah terjun ke dunia penulisan, rintangan demi rintangan berdatangan silih berganti. Rintangan yang pertama dirasakan adalah terbatasnya ide. Ide tersebut ada, namun ketika disalurkan lewat penulisan, tiba-tiba saja ide tersebut hilang.

Pertanyaan mulai muncul, “Apakah menulis itu mudah dan menyenangkan?”

Passion tidak selamanya mudah dan menyenangkan

Apapun passion Anda, apapun hal yang Anda sukai, tidak selamanya mudah dan menyenangkan. Misalkan Anda memiliki hobi sepak bola. Ok, ketika Anda bermain sepak bola, Anda begitu senang. Rasanya Anda tidak lelah dalam menjalankan hobi tersebut.

Namun hal itu hanya terjadi saat satu sampai tiga kali bermain sepak bola. Setelah bermain sepak bola cukup lama, mulailah Anda menyadari kelelahan fisik, atau bahkan terluka saat bermain sepak bola. Anda pun menyadari betapa pahitnya kekalahan.

Hal tersebut bukankah mengurangi kesenangan dalam bermain sepak bola? Bermain sepak bola menjadi sebuah kompetensi. Kemenangan adalah hal yang menyenangkan. Ada rasa puas ketika kemenangan tersebut diraih dan ada rasa sedih ketika kalah.

Belum lagi kalau terkena cedera. Bermain sepak bola bukan lagi menyenangkan, namun menyakitkan.

Anda passion menggambar. Mungkin iya, kalau Anda menggambar untuk diri sendiri, Anda merasa senang banget. Karena yang menilai hanyalah diri Anda sendiri. Namun, bagaimana jika nantinya gambar Anda disebarkan ke orang lain.

Mulai deh rintangan dimulai. Yang katanya gambar Anda tidak baguslah, tidak berseni, tidak mengikuti perkembangan zaman, dan banyak lagi rintangan lain. Menggambar pada akhirnya bukan lagi untuk menyenangkan Anda pribadi, namun sebuah kebutuhan untuk memuaskan publik.

Begitu juga kasusnya dengan menulis. Anda menulis sebuah novel. Awalnya mungkin merasa senang. Anda merasakan kalau novel Anda akan menjadi best seller. Tidak kalah dengan dengan penulis ternama.

Namun, hal tersebut adalah kekeliruan. Banyak hal yang harus dipelajari. Mulai dan pemilihan diksi, penokohan yang tepat, alur yang menantang, bahkan sampai EBI harus dipelajari. Menulis bukan hanya sekadar menulis, menyalurkan inspirasi, namun merupakan kegiatan kompleks yang membutuhkan skill profesional di dalamnya.

Dan pada akhirnya, beberapa orang mulai menyadari kalau kegiatan tulis menulis itu sulit. Tidak semua orang mampu menulis.

Namun rintangan tersebut membuat kita berkembang

Apa jadinya jika setiap kegiatan tidak ada rintangan? Yang ada kita tidak berkembang. Misalkan, Anda mencoba berlari cepat namun lawan Anda tidak ada. Bagaimana Anda menentukan kemenangan bila berlari tidak ada lawan. Anda hanya menilai diri Anda sendiri jadinya.

Anda ingin menjadi pemain sepak bola profesional, namun Anda tidak pernah bertanding sepak bola. Bagaimana caranya menjadi pemain sepak bola profesional bila tidak pernah bertanding? Hanya Anda sendiri yang mengakui kalau Anda pemain profesional tapi orang lain tidak.

Rintangan itu membuat Anda semakin berkembang. Ketika menulis, pertama kali Anda mendapat rintangan betapa sulitnya menggerakkan jari-jari. Anda pun mulai berlatih mengetik sepuluh jari. Secara perlahan, Anda pun mulai mahir. Kecepatan jari tangan Anda sebanding dengan kecepatan imajinasi Anda.

Lalu, ternyata banyak banget kesalahan ketik yang Anda lakukan. Anda pun mulai belajar revisi, memperbaiki setiap kesalahan ketika yang Anda lakukan. Akhirnya, Anda pun mulai belajar bagaimana caranya mengetik cepat tanpa ada kesalahan.

Setelah itu apa? Ternyata EBI berantakan. Bahkan mungkin Anda kesulitan membedakan fungsi titik dan koma. Anda pun belajar EBI secara mendalam dan langsung mempraktikannya.

Rintangan dan rintangan semakin ada, Anda pun belajar untuk mempelajari rintangan yang ada. Sampai ada akhirnya, tanpa disadari Anda telah menjadi penulis profesional. Namun tetap, penulis profesional pun tidak berarti mereka lolos tanpa rintangan, semakin profesional semakin besar rintangan.

Namun, walaupun rintangan tersebut sulit. Ketika Anda berhasil melewati rintangan tersebut, Anda merasakan kelegaan hati.

Kesimpulan

Kembali ke pertanyaan, “Apakah menulis itu mudah dan menyenangkan?” Jawabannya iya, jika kegiatan menulis itu hanyalah untuk Anda pribadi tanpa adanya perbaikan. Misalkan membuat catatan pribadi.

Namun bisa juga jawabannya tidak, jika kegiatan menulis itu bukan hanya untuk pribadi namun untuk publik. Melatih diri agar menjadi penulis yang handal. Rintangan demi rintangan bahkan penolakan berdatangan. Terkadang penolakan naskah seperti makanan ringan saja saking seringnya ditolak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here