Apakah Aku Harus Melupakan Mantan?

Apakah Aku Harus Melupakan Mantan

Seorang yang dulu kita sayang. Seorang yang dulu berbagi sedih dan senang bersama. Seorang yang dulu mampu mengubah dunia ini begitu indah. Namun, satu kata yang terucap menghancurkan segalanya. Kata “putus” dari mulutmu menghancurkan duniaku. Kini, aku berjalan di duniaku dan kamu juga berjalan di duniamu. Aku harus melupakanmu karena kamu adalah mantan. Namun, apakah aku harus melupakan mantan?

Pertanyaan seperti itu selalu terisak dalam pikiranku. Apakah aku harus melupakan mantan? Seorang yang pernah singgah di hati.

Aku berjalan kaki menuju danau tempat diriku dan dirimu dulu bercanda ria. Walaupun danau itu begitu kotor, tidak ada yang mau mengunjunginya, namun danau itu merupakan saksi bisu kebahagiaan kita.

Walaupun perjalanan dengan jalan kaki membutuhkan waktu berjam-jam tapi aku tetap memaksakan diriku ke sana. Kaki kecil begitu sakit menginjak kerikil-kerikil tajam. Walaupun aku telah menggunakan sepatu, tapi kerikil tersebut tetap berusaha menusuk kulitku.

Rambutku yang semula berwarna hitam, kini perlahan berubah menjadi cokelat. Hal itu dikarenakan campuran keringat dan panasnya sinar matahari.

Dan pakaianku, begitu basah diakibatkan pakaian yang bersentuhan langsung dengan puluhan partikel keringat.

Namun itu semua, rasa lelah yang kudapatkan seakan tidak menyerangku. Bukan rasa lelah yang terasa, namun rasa sedih. Setiap jalan, merupakan bayangan indah saat kita berdua.

Akhirnya sampai juga di depan pintu gapura danau. “Selamat datang di danau galau,” itulah kalimat yang menyapa setiap pengunjung danau ini. Dulu aku dan kamu sering menertawai kalimat itu. namun, sekarang kalimat itu begitu menusuk hati ini. Aku berjalan sedikit dan terpampanglah hamparan danau yang berwarna biru kehitaman.

Dulu, aku heran dengan warna danau ini. Seharusnya danau berwarna biru, namun kenapa ada warna hitam. Dan kamu menjelaskannya dengan sungguh-sungguh.

“Dengar ya Dwita, air danau ini menghitam karena pencemaran oleh minyak. Dulu, danau ini tempat pembuangan limbah pabrik minyak loh,” kamu menjelaskannya dengan sungguh-sungguh. Aku menggerakkan kepalaku, memperhatikan sebelah kananku. Bayangan akan dirimu muncul sambil menjelaskan kenapa danau ini ada berwarna hitam. namun, satu menit kemudian bayanganmu menghilang.

“Dwita, jangan melamun saja. Apa sih enaknya menatap danau dengan tatapan kosong?” aku melihat bayanganmu di hadapanku sedang memarahiku. Namun bayangan itu dengan cepat berlalu.

Hmm … dasar. Biar bagaimanapun aku tidak bisa melupakanmu. Apakah aku bisa hidup tanpa dirimu?

Aku membalikkan diriku. Aku hendak kembali ke rumah, namun langkahku berhenti. Kamu tiba-tiba menunjukkan dirimu. Bukan sebagai bayangan, namun dirimu yang asli.

“Hehe, hay,” sapamu begitu canggung. Biasanya kamu langsung melontarkan candaan yang menggelitik. Kini, untuk senyum pun kamu tidak bisa.

“Hay juga,” kataku berusaha menahan perihnya hati ini.

“Sedang apa di sini Dwita?”

“Sama, sedang apa dirimu di sini?” kataku berusaha tenang.

Awalnya aku pikir dia datang sendirian. Namun, dia tidak datang sendirian. Tiba-tiba saja, entah dari mana, muncul seorang perempuan yang begitu cantik. Kecantikannya mengalahkan diriku. Dia berada jauh di atasku.

“Sayang, kenapa harus di sini sih? Eh … air danaunya berwarna hitam. Pasti itu karena tumpahan minyak deh,” kata perempuan itu begitu lugas. Hal tersebut menusuk hatiku dengan pedang berjumlah ribuan. Perempuan itu menjelaskan kenapa danau itu berwarna hitam dan kamu hanya diam saja memperhatikan perkataannya. Sorot matamu mengatakan kalau kamu telah jatuh cinta kepada perempuan itu.

Aku menahan getir di bibirku. Aku tidak mampu berkata apa-apa lagi. Air mataku sudah tidak terbendung lagi. Air mataku keluar, namun mulutku tidak menangis. Namun, kamu tidak memperdulikanku. Kamu asyik bermadu kasih dengan perempuan itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here