Apa yang Terjadi Ketika Bekerja Tidak Sesuai Passion?

lelah bekerja

Terkadang, pekerjaan itu tidak memandang passion namun memandang keuangan. Ya bagaimanapun, kebutuhan semakin hari semakin meningkat. Jika hari ini membutuhkan sedikitnya satu juta rupiah, maka besok mungkin bisa lima juta rupiah.

Apapun pekerjaan asal itu baik dan tidak menyalahi aturan, rasanya boleh saja dilakukan. Namun, dalam pekerjaan juga ada istilah bekerja sesuai dengan passion atau tidak. Dan lagi ada juga istilah pekerjaan sesuai dengan bidang jurusan sewaktu kulah atau tidak.

Jika bekerja tidak sesuai dengan jurusan, saya mungkin tidak ambil komentar. Karena walaupun bekerja tidak sesuai jurusan, kalau itu sesuai dengan passion Anda, Anda akan belajar dengan keras. Seperti Anda memiliki kecintaan terhadap dunia game, padahal awalnya adalah orang yang awam akan game. Anda akan belajar terus untuk mahir bermain game, dan itu terasa menyenangkan.

Namun apa jadinya Anda dipaksa untuk mahir dalam game padahal Anda tidak suka bermain game. Hanya karena keadaan yang membuat Anda harus bermain game, misalnya karena lingkungan pertemanan semuanya bermain game. Apakah Anda akan mahir? Anda mungkin bisa menjadi mahir namun … apakah Anda menikmatinya?

Inilah yang menjadi pertanyaan jika bekerja tidak sesuai passion. Rasanya bekerja itu seperti berada dalam ikatan rantai. Jika tidak dikerjakan, ikatan semakin kuat. Jika dikerjakan ikatan juga semakin kuat, begitu menyesakkan dada.

Bisa orang yang bekerja tidak sesuai passion memiliki jabatan yang tinggi. Namun, apakah pernah dia tersenyum dalam menjalankan pekerjaannya? Apakah dia senang ketika melihat uang hasil jerih payahnya? Rasanya kebanyakan orang yang bekerja tidak sesuai passion, menganggap hasil jerih payahnya itu terbuang percuma. Tapi, keadaan yang membuat dia bertahan.

Bukan orang lain saja yang pernah mengalaminya demikian, saya juga pernah mengalaminya. Terasa bekerja di bawah ikatan rantai. Setiap pekerjaan itu terpaksa dilakukan. Rasanya menghitung jam agar pekerjaan cepat selesai. Ingin keluar dari tempat bekerja tersebut. Hari libur adalah hari yang paling ditunggu, walaupun hanya satu hari saja. Jangan pernah membicarakan pencapaian pekerjaan, walaupun hasil pencapaian bagus sebisa mungkin jangan dibahas. Karena yang dirasa bukanlah kebanggaan atau kemenangan, namun sebuah kesedihan pilu yang tidak mungkin dikatakan.

Semakin hari rasanya kepala ini ingin muntah atas stress yang semakin memuncak. Pekerjaan seperti ruang siksaan bagi saya.

Baiklah, setidaknya ada beberapa efek samping jika bekerja tidak sesuai passion.

1. Stress memuncak

Ini juga yang saya rasakan. Padahal hanya beberapa file saja yang dikerjakan, tetapi rasanya begitu stress. Stress karena tekanan pekerjaan mungkin ada. Tapi sebenarnya bukan karena itu. Stress karena jeritan batin. Hati ini ingin berkata, “Aku tidak mau melakukannya! Aku tidak mau melakukannya!” namun fisik ini dipaksa untuk melakukannya.

Hari senin dimana stress memuncak. Hari minggu adalah hari liburan, ingin jauh pikiran dari pekerjaan. Ingin rasanya setiap hari itu adalah hari minggu. Namun ada hari senin. Pikiran sudah tenang dipaksa stress akibat tekanan batin. Terkadang kepala ingin pecah.

Belum lagi jika pekerjaan menemui tantangan. Rasanya kepala ini ingin meledak. Ingin rasanya melampiaskan stress ini tapi kemana? Liburan? Baiklah liburan bisa menghilangkan stress namun keesokan atau minggu depan harus masuk kerja. Akhirnya mengalami stress juga.

Akhirnya muncul istilah, “Kerja itu untuk stress.”

2. Kerja seadanya

Bekerja tidak sesuai dengan passion sangat sulit untuk menjadi yang terbaik. Karena bekerja dengan tidak sesuai passion, artinya tidak ada minat akan pekerjaan tersebut. Ada tugas, maka dikerjakan seadanya. Yang penting selesai, tidak peduli apakah hasilnya baik atau tidak.

Jika dimarahi atasan, hanya mendengarkan saja lalu melupakan apa yang dia katakan. Disarankan untuk membaca beberapa ilmu pengetahuan, rasanya malas saja. Lebih baik bertanya dengan senior, bertanya seadanya, yang penting tahu, tanpa perlu pengembangan, tanpa perlu menjadi yang terbaik, yang penting pekerjaan selesai.

Apakah ada kesenangan dalam melakukan pekerjaan? Rasanya tidak ada. Yang ada adalah kesenangan ketika mendengar kata “pulang”, “libur”, atau “cuti”. Tumpukan dokumen yang ada di hadapan, yang akan diselesaikan, seperti tumpukan batu panas yang membakar seluruh tubuh.

Ketika pekerjaan selesai, ingin rasanya tidak ada pekerjaan tambahan lagi. “Sudah, jangan ada lagi pekerjaan, saya capek!” dalam hati selalu berteriak demikian. Namun, ketika diberikan pekerjaan, mulut ini tersenyum dan menerimanya. Namun dalam hati menjerit.

3. Terkadang, dipecat bukanlah musibah

Ini juga yang terjadi pada saya di kala itu. Mengerjakan tugas dengan seadanya, yang penting selesai, tidak penting itu baik atau buruk. Kalau atasan marah, nggak peduli, yang dipikirkan: atasan selesai bicara, saya meninggalkannya, masalah beres.

Rasanya dipecat itu merupakan keindahan. Terkadang iri melihat teman-teman yang dipecat. Ingin rasanya saya dipecat juga. Ingin berhenti dari pekerjaan, tapi rasanya lebih baik dipecat daripada minta berhenti.

Jika orang lain merasa dipecat itu begitu menyedihkan tapi bagi diri sendiri itu rasanya menyenangkan. “Ingin berhenti dari pekerjaan ini!” hati terus-terusan menjerit demikian tanpa henti.

4. Dipromosikan/mendapat penghargaan bukanlah kebanggaan

Mungkin karena lagi beruntung, tiba-tiba dipromosikan ke jabatan yang lebih tinggi. Atau tiba-tiba mendapat prestasi yang tidak diduga-duga. Padahal selama ini bekerja dengan asal-asalan.

Mungkin bagi beberapa orang itu merupakan pencapaian yang patut dibanggakan. Namun yang dirasakan bukan kesenangan. Bahkan ketika mendapat kabar demikian, rasanya diri biasa saja, tidak ada yang spesial dari hal tersebut.

Mungkin ada orang yang tidak suka dipromosikan. Di dalam pikiran dia, dia akan sibuk mengerjakan pekerjaan yang tidak dia sukai. Waktunya semakin terbuang percuma hanya untuk menghabiskan sesuatu yang amat dia tidak suka.

5. Keinginan berhenti kerja semakin memberontak

Bekerja tidak sesuai dengan passion itu sangat menyakitkan. Stress memuncak, bekerja asal-asalan, mendapat promosi jabatan/mendapat penghargaan bukanlah yang diinginkan, dll. Keinginan untuk berhenti semakin kuat.

Mungkin, di saat hari senin, memulai pekerjaan, dalam hati selalu terlintas berhenti bekerja. “Saya ingin berhenti, mencari pekerjaan yang sesuai dengan passion. Pekerjaan yang membuat saya tidak menghabiskan waktu dengan stress memuncak, namun dengan senyuman.”

Keinginan sih ada. Namun jika melihat kenyataan, yang mana mencari pekerjaan sangat sulit, kebutuhan yang semakin tinggi, jumlah pengangguran yang banyak, membuat diri ini mengurungkan niat.

Terkadang rasanya sulit gitu memulai sesuatu yang baru. Walaupun itu sesuai dengan passion, sangat sulit sekali. Kebutuhan hidup selalu menuntut, tidak peduli apakah bekerja sesuai dengan passion atau tidak.

Ada beberapa orang yang memilih berhenti, mengejar passion yang dia punyai. Ada juga yang memilih bertahan. Semua itu ada pertimbangan masing-masing.

Penutup

Bekerja karena keterpaksaan, rasanya seperti itulah bila bekerja tidak sesuai passion. Ingin rasanya berhenti, namun terkadang tidak bisa. Ada sesuatu yang kuat untuk tetap bertahan. Namun, rasa stress yang memuncak itu tidak bisa dianggap remeh.

Apakah bila bekerja tidak sesuai passion harus berhenti bekerja? Bisa iya namun bisa juga tidak. Banyak pertimbangan yang harus dipertimbangkan. Namun saran dari saya, jangan sampai salah pilih. Terkadang, meminta pendapat dari keluarga, sahabat, orang tercinta, itu sangat perlu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here