Ancaman Jangan Pernah Berada di Ruangan Sendirian

house horor

“Hey, pernahkah kamu mendengar suara memanggil namamu? Ketika kamu sendirian, kamu mendengar seseorang memanggil namamu. Ketika kamu menoleh ke belakang, ternyata tidak ada orang,” tanya Susi kepadaku. Aku langsung terkejut. Karena hal tersebut sering terjadi kepada diriku. Kira-kira dua bulan yang lalu, sebelum kejadian tersebut.

Kira-kira dua bulan yang lalu. Aku dan teman-temanku pergi ke hutan untuk kamping. Ini merupakan agenda yang sudah lama kami nantikan. Kami sudah membuat rencana matang selama di kampus.

Kami semua berjumlah empat orang. Andi, Adi, Ando, dan Ardi. Kami dikenal sebagai 4A. Entah kenapa kami mulai akrab? Rasanya keakraban kami mengalir begitu saja. Oh ya, namaku Ardi.

Tapi, yang paling beruntung mengenai percintaan adalah Ando. Dia memiliki pacar yang sudah tahunan. Sedangkan kami bertiga, masih menjomblo tahunan.

Kami memiliki hobi yang sama, yaitu kamping dan menjelajah tempat baru. Sudah banyak tempat yang kami jelajahi. Dan sekarang, kami ingin ke hutan yang katanya itu adalah hutan terseram.

Kami tentu tidak pergi sendirian. Kami menyewa seorang guide. Namun anehnya, guide tersebut beberapa kali melarang kami untuk kamping di hutan tersebut.

***

“Ah … sudah malam. sekarang tidur,” kata Andi dengan mata merahnya. Terlihat kali kalau dia kelelahan. Andi dan Ando juga bergabung untuk tidur. Sekang tinggal aku yang asyik menatap api unggun. Tiba-tiba bapak guide duduk di depanku, menemaniku.

“Nak, kamu tidak tidur?”

“Belum pak, masih belum ngantuk.”

“Sebaiknya tidur saja. Kalau tidak, kamu akan mendapat masalah.”

“Memang kenapa pak?” tanyaku penasaran. Sejak awal, aku penasaran dengan bapak guide itu. Karena dia selalu melarang kami.

“Uh … apakah bapak ceritakan atau tidak ya. Tapi sepertinya sudah terlambat. Dia … sudah melekat kepada dirimu nak. Umurmu sudah tidak lama lagi. ingat nak, jangan pernah berada di dalam ruangan sendirian,” itulah pesan bapak itu dan dia pun meninggalkanku. Aku jelas heran dengan apa yang dia katakan.

***

Dua hari berlalu, kegiatan kampung yang sangat seru banget. Pergi ke daerah tempat baru, dan mencoba hal-hal baru. Pokoknya seru banget. Akhirnya kami pun pulang.

“Ingat nak, jangan pernah berada di dalam ruangan sendirian,” itulah yang dikatakan bapak guide itu kepadaku. Aku hanya mengangguk saja. Teman-temanku kebingungan, begitu juga denganku. Dan … ketika aku akan tertidur di kendaraan, samar-samar aku melihat seorang perempuan melayang.

***

“Hey, kok bengong? Pertanyaanku belum dijawab tahu!” kata Susi membuyarkan lamunanku. Apa yang harus aku jawab ya? Apakah aku harus menjawab “iya”?

“Iya benar sekali Susi, aku mendengar suara itu dua bulan terakhir ini.”

“Kamu pernah berada di ruangan sendirian?”

“Tidak pernah. Aku kan satu kost bersama teman-temanku.”

“Kalau di kamar mandi? Kamu tidak sendirian?”

“Sendirian lah Susi. Masak ke kamar mandi barengan.”

“Haha kamu benar sekali. Oh ya, satu saran dari aku. Pokoknya jangan pernah berada di dalam ruangan sendirian. Aku sudah memperingatkanmu, dia kayaknya marah samaku.”

“Dia? siapa dia Susi?”

Susi langsung meninggalkanku dengan ekspresi ketakutan. Apa yang terjadi? Waktu itu bapak guide, sekarang Susi yang memperingatkanku.

“Ardi,” tiba-tiba ada seorang memanggilku. Aku baru tersadar, tadi aku berduaan bersama Susi di kelas. Sekarang dia meninggalkanku, yang artinya aku sekarang sendirian.

Aku dengan cepat pergi ke pintu kelas. Tapi entah kenapa, pintu kelas tidak dapat di buka. Seolah-olah dikunci dari luar. Suasananya semakin mencekam. Bulu kudukku langsung berdiri.

Aku mencoba keluar dari jendela, tapi kakiku tertahan oleh sesuatu. Jendela kelas ini terbuka lebar, bisa tubuh untuk keluar. Tapi, kakiku ditahan oleh sesuatu.

“Ardi,” aku menoleh ke belakang. Berdiri sosok perempuan yang menyeramkan. Memakai baju putih dengan rambut panjang. Dia juga melayang di udara.

“Ardi,” sosok itu terus memanggil namaku. Aku tidak bisa berbicara. Karena aku ketakutan, aku hanya bisa dia di tempat saja. Sosok itu melayang mendekati diriku.

Jaraknya semakin dekat, semakin dekat. Tangan sosok itu bergerak memegang pipiku. Tangannya begitu dingin seperti es.

Sekilas aku melihat air mata menetes dari wajah sosok itu. Apa ini? Apa ini? Seluruh tubuhku membeku.

“Ardi, kini kamu menjadi milikku,” sosok itu memelukku begitu lembut dan hangat dan seluruh tubuhku kaku dan membeku. Dengan kata lain aku telah mati. Dan aku sadar, kalau aku sudah tidak ada di dunia ini, tapi berada di dunia sosok itu. mungkin, arwahku dipindahkan ke tempat sosok itu. Dan aku menjadi budak sosok itu selamanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here